Senin, 21 Agustus 2017

Laporan Pendahuluan

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA Tn. K  DENGAN DIAGNOSA MEDIS SKIZOFRENIA TAK TERINCI (F.20.3) DENGAN MASALAH KEPERAWATAN UTAMA GANGGUAN PROSES PIKIR WAHAM DI WISMA NAKULA RUMAH SAKIT JIWA GRASIA

Disusun untuk memenuhi tugas Praktik Klinik Keperawatan Jiwa
Disusun Oleh:
Diana Anjar Sari

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Kesehatan jiwa merupakan suatu keadaan yang memungkinkan untuk terjadinya perkembangan fisik, intelektual, dan emosional individu secara potimal, sejauh perkembangan tersebut sesuai dengan perkembangan optimal individu-individu lain.
Sementara itu, gangguan jiwa adalah suatu keadaan dengan adanya gejala klinis yang bermakna, berupa sindrom pola perilaku dan pola psikologik, yang berkaitan dengan adanya distress (tidak nyaman, tidak tentram, rasa nyeri), distabilitas (tidak mampu mengerjakan pekerjaan sehari-hari), atau meningkatkan resiko kematian, kesakitan, dan distabilitas. Gangguan jiwa terdiri dari beberapa macam termasuk diantaranya adalah waham atau delusi.
Waham merupakan salah satu tanda dan gejala gangguan jiwa. Waham terjadi karena munculnya perasaan terancam oleh lingkungan, cemas, merasa sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi sehingga individu mengingkari ancaman dari persepsi diri atau objek realitas dengan menyalah artikan kesan terhadap kejadian, kemudian individu memproyeksikan pikiran dan perasaan internal pada lingkungan sehingga perasaan,pikiran, dan keinginan negatif tidak dapat diterima menjadi bagian eksternal dan akhirnya individu mencoba memberi pembenaran personal tentang realita pada diri sendiri atau orang lain (Purba, 2008).







B.     Rumusan Masalah
1.      Apa konsep dasar waham ?
2.      Bagaimana askep pada klien waham?

C.    Tujuan
1.      Mengetahui konsep dasar waham
2.      Mengetahui askep pada klien waham



BAB II
TINJAUAN TEORI

A.    Pengertian
Waham adalah keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian realitas yang salah. Keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan latar belakang budaya klien.
Manifestasi klinik waham yaitu berupa : klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya ( tentang agama, kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya ) berulang kali secara berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan, klien tampak tidak mempunyai orang lain, curiga, bermusuhan, merusak (diri, orang lain, lingkungan), takut, kadang panik, sangat waspada, tidak tepat menilai lingkungan / realitas, ekspresi wajah tegang, mudah tersinggung.

B.     Penyebab
a.       Faktor Predisposisi
1)      Faktor Perkembangan
Hambatan perkembangan akan mengganggu hubungan interpersonal seseorang. Hal ini dapat meningkatkan stress dan ansietas yang berakhir dengan gangguan persepsi, klien menekan perasaannya sehingga pematangan fungsi intelektual dan emosi tidak efektif
2)      Faktor Sosial Budaya
Seseorang yang merasa diasingkan dan kesepian dapat menyebabkan timbulnya waham.
3)      Biologis
Pola keterlibatan keluarga relatif kuat yang muncul dikaitkan dengan delusi tau waham. Dimana individu dari anggota keluarga yang dimanifestasikan dengan gangguan ini berada pada resiko lebih tinggi untuk mengalaminya dibandingkan dengan populasi umum. Studi pada manusia kembar juga menunjukkan bahwa ada keterlibatan faktor genetik.
4)      Psikososial
a)      Sistem Keluarga
Dikemukakan oleh Bowen (2008) dimana perkembangan skizofrenia sebagai suatu perkembangan disfungsi keluarga. Konflik diantara suami istri mempengaruhi anak.Beberapa ahli teori menyakini bahwa individu paranoid memiliki orang tua yang dingin, perfeksionis, sering menimbulkan kemarahan, perasaan mementingkan diri sendiri yang berlebihan dan tidak percaya pada individu
b)      Teori Interpersonal
Orang yang mengalami psikosis akan menghasilkan suatu hubungan orang tua-anak yang penuh dengan ansietas tinggi (Sullivan, 2003).
c)      Psikodinamika
Perkembangan emosi terhambat karena kurangnya rangsangan atau perhatian ibu, dengan ini seorang bayi mengalami penyimpangan rasa aman dan gagal untuk membangun rasa percayanya.Proyeksi merupakan mekanisme koping paling umum yang digunakan sebagai pertahanan melawan perasaan
b.      Faktor Presipitasi
1)      Faktor sosial budaya
Waham yang dipicu karena adanya perpisahan dengan orang yang berarti atau diasingkan dari kelompok.
2)      Faktor biokimia
Dopamin, norepineprin dan zat halusinogen lainnya diduga dapat menjadi penyebab waham pada seseorang.
3)      Faktor psikodinamis
Kecemasan yang memanjang dan terbatasnya kemampuan untuk mengatasi masalah sehingga klien mengembangkan koping untuk menghindari kenyataan yang menyenangkan.

Penyebab secara umum dari waham adalah gannguan konsep diri : harga diri rendah. Harga diri rendah dimanifestasikan dengan perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa gagal mencapai keinginan.

C.     Akibat
Akibat dari waham klien dapat mengalami kerusakan komunikasi verbal yang ditandai dengan pikiran tidak realistic, flight of ideas, kehilangan asosiasi, pengulangan kata-kata yang didengar dan kontak mata yang kurang. Akibat yang lain yang ditimbulkannya adalah beresiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan.

D.    Proses Terjadinya Masalah/ Keluhan
Menurut Yosep (2009), proses terjadinya waham meliputi 6 fase, yaitu :
1.      Fase Lack of Human Need
Waham diawali dengan terbatasnya kebutuhan-kebutuhan klien baik secara fisik maupun psikis. Secara fisik klien dengan waham dapat terjadi pada orang-orang dengan status sosial dan ekonomi sangat terbatas. Biasanya klien sangat miskin dan menderita. Keinginan ia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mendorongnya untuk melakukan kompensasi yang salah. Ada juga klien yang secara sosial dan ekonomi terpenuhi tetapi kesenjangan antara realiti dengan self ideal sangat tinggi.


2.      Fase Lack of Self Esteem
Tidak adanya pengakuan dari lingkungan dan tingginya kesenjangan antara self ideal dengan self reality (keyataan dengan harapan) serta dorongan kebutuhan yang tidak terpenuhi sedangkan standar lingkungan sudah melampaui kemampuannya.
3.      Fase Control Internal External
Klien mencoba berpikir rasional bahwa apa yang ia yakini atau apa-apa yang ia katakan adalah kebohongan, menutupi kekurangan dan tidak sesuai dengan keyataan, tetapi menghadapi keyataan bagi klien adalah suatu yang sangat berat, karena kebutuhannya untuk diakui, kebutuhan untuk dianggap penting dan diterima lingkungan menjadi prioritas dalam hidupnya, karena kebutuhan tersebut belum terpenuhi sejak kecil secara optimal. Lingkungan sekitar klien mencoba memberikan koreksi bahwa sesuatu yang dikatakan klien itu tidak benar, tetapi hal ini tidak dilakukan secara adekuat karena besarnya toleransi dan keinginan menjaga perasaan. Lingkungan hanya menjadi pendengar pasif tetapi tidak mau konfrontatif berkepanjangan dengan alasan pengakuan klien tidak merugikan orang lain.
4.      Fase Environment Support
Adanya beberapa orang yang mempercayai klien dalam lingkungannya menyebabkan klien merasa didukung, lama kelamaan klien menganggap sesuatu yang dikatakan tersebut sebagai suatu kebenaran karena seringnya diulang-ulang. Dari sinilah mulai terjadinya kerusakan kontrol diri dan tidak berfungsinya norma (super ego) yang ditandai dengan tidak ada lagi perasaan dosa saat berbohong.
5.      Fase Comforting
Klien merasa nyaman dengan keyakinan dan kebohongannya serta menganggap bahwa semua orang sama yaitu akan mempercayai dan mendukungnya. Keyakinan sering disertai halusinasi pada saat klien menyendiri dari lingkungannya. Selanjutnya klien sering menyendiri dan menghindari interaksi sosial (isolasi sosial).   
6.      Fase Improving
Apabila tidak adanya konfrontasi dan upaya-upaya koreksi, setiap waktu keyakinan yang salah pada klien akan meningkat. Tema waham yang muncul sering berkaitan dengan traumatik masa lalu atau kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi (rantai yang hilang). Waham bersifat menetap dan sulit untuk dikoreksi. Isi waham dapat menimbulkan ancaman diri dan orang lain.

E.     Klasifikasi Waham
a.       Waham agama
Keyakinan klien terhadap suatu agama secara berlebihan, diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan. Contoh, “ Tuhan telah menunjuk saya menjadi wali, saya harus terus menerus memakai pakaian putih setiap hari agar masuk surga”.
b.      Waham kebesaran
Keyakinan klien yang berlebihan tentang kebesaran dirinya atau kekuasaan, diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan. Contoh, “ Saya ini titisan Bung Karno, punya banyak perusahaan, punya rumah di berbagai negara dan bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit”.
c.       Waham curiga
Waham curiga yaitu klien yakin bahwa ada orang atau kelompok orang yang sedang mengancam dirinya, merugikan atau mencederai dirinya, diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan. Contoh, “Banyak polisi mengintai saya, tetangga ssaya ingin menghancurkan hidup saya, suster akan meracuni makanan saya”.
d.      Waham nihilistic
Waham nihilistik yaitu klien yakin bahwa dirinya sudah tidak ada lagi di dunia atau sudah meninggal dunia, diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan. Contoh, “ Saya sudah menghilang dari dunia ini, semua yang ada disini adalah roh-roh, sebenarnya saya sudah tidak ada di dunia ini”.
e.       Waham somatik
Waham somatik yaitu meyakini bahwa tubuh klien atau bagian tubuhnya terganggu, diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan. Contoh, “ Sumsum tulang belakang saya kosong, saya pasti terserang kanker, dalam tubuh saya banyak kotoran, tubuh saya telah membusuk, tubuh saya menghilang”.
f.       Waham Kejar.
Klien yakin bahwa ada orang yang sedang mengganggunya, menipunya, memata-matai atau menjelekkan dirinya.
g.      Waham sisip pikir
Waham sisip pikir yaitu klien yakin bahwa ada pikiran orang lain yang disisipkan atau dimasukan kedalam pikiranya.
h.      Waham siar pikir
Waham siar yaitu klien yakin bahwa orang lain megetahui isi pikiranya, padahal dia tidak pernah menyatakan pikiranya kepada orang tersebut.
i.        Waham kontrol pikir
Waham kontrol pikir yaitu klien yakin bahwa pikiranya dikontrol oleh kekuatan  dari luar.

F.     Tanda dan Gejala
Menurut Direja (2011), kondisi klien yang mengalami waham adalah:
1)      Status mental
a)      Pada pemeriksaan status mental, menunjukan hasil yang sangat normal, kecuali bila ada sistem waham abnormal yang jelas.
b)      Mood klien konsisten dengan isi wahamnya.
c)      Pada waham curiga, didapatkan perilaku pencuriga.
d)     Pada waham kebesaran, ditemukan pembicaraan tentang peningkatan identitas diri, mempunyai hubungan khusus dengan orang yang terkenal.
e)      Adapun sistem wahamnya, pemeriksa kemungkinan merasakan adanya kualitas depresi ringan.
f)       Klien dengan waham, tidak memiliki halusinasi yang menonjol/ menetap, kecuali pada klien dengan waham raba atau cium. Pada beberapa klien kemungkinan ditemukan halusinasi dengar.
2)      Sensori dan kognisi
a)      Pada waham, tidak ditemukan kelainan dalam orientasi, kecuali yang memiliki waham spesifik tentang waktu, tempat dan situasi.
b)      Daya ingat dan proses kognitif klien adalah intak (utuh).
c)      Klien waham hampir selalu memiliki insight (daya titik diri) yang jelek.
d)     Klien dapat dipercaya informasinya, kecuali jika membahayakan dirinya. Keputusan terbaik bagi pemeriksa dalam menentukan kondisi klien adalah dengan menilai perilaku masa lalu, masa sekarang dan yang direncanakan.









G.    Pohon Masalah
Text Box: Resiko tinggi perilaku kekerasan (mencederai diri, orang lain dan lingkungan)

Menurut Stuart dan Sundeen :
                                   
Text Box: Effect
Text Box: Perubahan sensori / isi pikir : waham
 


                       
Text Box: Core Problem
 

Text Box: Isolasi sosial : menarik diri                       
 




H.    Masalah Keperawatan & Data Yang Perlu Dikaji
1.      Masalah keperawatan : Perubahan isi pikir : waham
2.      Pengkajian
a.       Faktor  predisposisi
1)      Genetik :  diturunkan
2)      Neurobiologis :  adanya gangguan pada konteks pre frontal dan konteks limbic
3)      Neurotransmiter : abnormalitas pada dopamin ,serotonin ,dan  glutamat.
4)      Virus : paparan virus influinsa pada trimester III
5)      Psikologi : bapak pencemas ,terlalu melindungi ,ayah tidak peduli.

b.      Faktor presipitasi
1)      Proses pengolahan informasi yang berlebihan
2)      Mekanisme penghantaran listrik yang abnormal
3)      Adanya gejala pemicu
Setiap melakukan pengkajian, tulis tempat klien dirawat dan tanggal dirawat. Isi pengkajiannya meliputi:
a.       Identifikasi klien
Perawat yang merawat klien melakukan perkenalan dan kontrak dengan klien tentang: Nama klien, panggilan klien, Nama perawat, tujuan, waktu pertemuan, topik pembicaraan.

b.      Keluhan utama / alasan masuk
Tanyakan pada keluarga / klien hal yang menyebabkan klien dan keluarga datang ke Rumah Sakit, yang telah dilakukan keluarga untuk mengatasi masalah dan perkembangan yang dicapai.

c.       Riwayat Penyakit Sekarang
Tanyakan pada klien / keluarga, apakah klien pernah mengalami gangguan jiwa pada masa lalu, pernah melakukan, mengalami, penganiayaan fisik, seksual, penolakan dari lingkungan, kekerasan dalam keluarga dan tindakan kriminal. Dapat dilakukan pengkajian pada keluarga faktor yang mungkin mengakibatkan terjadinya gangguan:


1)      Psikologis
Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi respon psikologis dari klien.
2)      Biologis
Gangguan perkembangan dan fungsi otak atau SSP, pertumbuhan dan perkembangan individu pada prenatal, neonatus dan anak-anak.
3)      Sosial Budaya
Seperti kemiskinan, konflik sosial budaya (peperangan, kerusuhan, kerawanan), kehidupan yang terisolasi serta stress yang menumpuk.

d.      Aspek fisik / biologis
Mengukur dan mengobservasi tanda-tanda vital: TD, nadi, suhu, pernafasan. Ukur tinggi badan dan berat badan, kalau perlu kaji fungsi organ kalau ada keluhan.

e.       Aspek psikososial
Membuat genogram yang memuat paling sedikit tiga generasi yang dapat menggambarkan hubungan klien dan keluarga, masalah yang terkait dengan komunikasi, pengambilan keputusan dan pola asuh.
1)      Konsep diri
a)      Citra tubuh: mengenai persepsi klien terhadap tubuhnya, bagian yang disukai dan tidak disukai.
b)      Identitas diri: status dan posisi klien sebelum dirawat, kepuasan klien terhadap status dan posisinya dan kepuasan klien sebagai laki-laki / perempuan.
c)      Peran: tugas yang diemban dalam keluarga / kelompok dan masyarakat dan kemampuan klien dalam melaksanakan tugas tersebut.
d)     Ideal diri: harapan terhadap tubuh, posisi, status, tugas, lingkungan dan penyakitnya.
e)      Harga diri: hubungan klien dengan orang lain, penilaian dan penghargaan orang lain terhadap dirinya, biasanya terjadi pengungkapan kekecewaan terhadap dirinya sebagai wujud harga diri rendah.
2)      Hubungan sosial dengan orang lain yang terdekat dalam kehidupan, kelompok yang diikuti dalam masyarakat.
3)      Spiritual, mengenai nilai dan keyakinan dan kegiatan ibadah.

f.       Status mental
Nilai penampilan klien rapi atau tidak, amati pembicaraan klien, aktivitas motorik klien, alam perasaan klien (sedih, takut, khawatir), afek klien, interaksi selama wawancara, persepsi klien, proses pikir, isi pikir, tingkat kesadaran, memori, tingkat konsentasi dan berhitung, kemampuan penilaian dan daya tilik diri.

g.      Kebutuhan persiapan pulang
1)      Kemampuan makan klien, klien mampu menyiapkan dan membersihkan alat makan.
2)      Klien mampu BAB dan BAK, menggunakan dan membersihkan WC serta membersihkan dan merapikan pakaian.
3)      Mandi klien dengan cara berpakaian, observasi kebersihan tubuh klien.
4)      Istirahat dan tidur klien, aktivitas di dalam dan di luar rumah.
5)      Pantau penggunaan obat dan tanyakan reaksi yang dirasakan setelah minum obat.

h.      Masalah psikososial dan lingkungan
Dari data keluarga atau klien mengenai masalah yang dimiliki klien.

i.        Pengetahuan
Data didapatkan melalui wawancara dengan klien kemudian tiap bagian yang dimiliki klien disimpulkan dalam masalah.

j.        Aspek medic
Terapi yang diterima oleh klien: ECT, terapi antara lain seperti terapi psikomotor, terapi tingkah laku, terapi keluarga, terapi spiritual, terapi okupasi, terapi lingkungan. Rehabilitasi sebagai suatu refungsionalisasi dan perkembangan klien supaya dapat melaksanakan sosialisasi secara wajar dalam kehidupan bermasyarakat.

I.       Masalah Keperawatan
1.      Resiko Perilaku Kekerasan
2.      Waham
3.      Halusinasi
4.      Defisit Perawatan Diri


J.       Rencana Tindakan Keperawatan
No
Dx keperawatan
Perencanaan
Tujuan
Kriteria evaluasi
Intervensi
Rasional
1.
.
Gangguan proses pikir : waham
TUM : Klien dapat mengontrol wahamnya
TUK :
1.      Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat




1.      Setelah ....x interaksi klien :
  1. Mau menerima kehadiran perawat disampingnya
  2. Mengatakan mau menerima bantuan perawat
  3. Tidak menunjukkan tanda-tanda curiga
  4. Mengijinkan duduk di samping




1.      Bina hubungan saling percaya dengan klien :
  1. Beri salam
  2. Perkenalkan diri, tanyakan nama serta nama penggilan yang disukai.
  3. Jelaskan tujuan interaksi
  4. Yakinkan klien dalam keadaan aman dan perawat siap menolong dan mendampinginya




Tindakan keperawatan akan mudah diterima pasien ketika hubungan saling percaya sudah terjalin.
2.      Klien dapat mengidentifikasi perasaan yang muncul secara berulang dalam pikiran klien
2.      Setelah .... x interaksi klien :
Klien menceritakan ide-ide dan perasaan yang muncul secara berulang dalam pikirannya
2.      Bantu klien untuk mengungkapkan perasaan dan pikirannya
  1. Diskusikan dengan klien pengalaman yang dialami selama ini termasuk hubungan dengan orang yang berarti, lingkungan kerja, sekolah, dsb
  2. Dengarkan pernyataan klien dengan empati tanpa mendukung / menentang pernyataan wahamnya
  3. Katakan perawat dapat memahami apa yang deceritakan klien
Kebutuhan tidak terpenuhi merupakan awal mula waham
3.      Klien dapat mengidentifikasi stress / pencetus wahamnya. (Triggers Factor)
3.      Setelah ....x interaksi klien :
  1. Dapat menyebutkan kejadian-kejadian sesuai dengan urutan waktu serta harapan / kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi seperti : Harga diri, rasa aman dsb.
  2. Dapat menyebutkan bubungan antara kejadian traumatis/kebutuhan tidak terpenuhi dengan wahamnya.
3.      Bantu klien untuk mengidentifikasi kebutuhan yang tidak terpenuhi serta kejadian yang menjadi faktor pencetus wahamnya
  1. Diskusikan dengan klien tentang kejadian-kejadian traumatic yang menimbulkan rasa takut, ansietas meupun perasaan tidak dihargai
  2. Diskusikan kebutuhan/harapan yang belum terpenuhi
  3. Diskusikan dengan klien apakah ada halusinasi yang meningkatkan pikiran / perasaan yang terkait wahamnya
  4. Diskusikan dengan klien apakah ada halusinasi yang meningkatkan pikiran/perasaan yang terkait wahamnya
  5. Diskusikan dengan klien antara kejadian-kejadian tersebut dengan wahamnya
Dengan teridentifikasi waham klien, akan diketahui tindakan yang harus dilakukan
4.      Klien dapat mengidentifikasi wahamnya
4.      Setelah ....x interaksi klien :
Menyebutkan perbedaan pengalaman nyata dengan pengalaman wahamnya
4.      Bantu klien mengidentifikasi keyakinannya yang salah temntang situasi yang nyata (bila klien sudah siap)
  1. Diskusikan dengan klien pengalaman wahamnya tanpa berargumentasi
  2. Katakan kepada klien akan keraguan perawat terhadap pernyataan klien
  3. Diskusikan dengan klien respon perasaan terhadap wahamnya
  4. Diskusikan frekuensi, intensitas dan durasi terjadinya waham
  5. Bantu klien membedakan situasi nyata dengan situasi yang dipersepsikan salah oleh klien
Dengan mengetahui wahamnya, klien dapat mencegah waham timbul kembali
5.      Klien dapat mengidentifikasi konsekuensi dari wahamnya
5.      Setelah ....x interaksi klien dapat menjelaskan gangguan fungsi hidup sehari-hari yang diakibatkan ide-ide atau fikiran yang tidak sesuai  kenyataan seperti:
  1. Hubungan dengan keluarga
  2. Hubungan dengan orang lain
  3. Aktivitas sehari-hari
  4. Pekerjaan
5.1  Diskusikan dengan klien pengalaman-pengalaman yang tidak menguntungkan sebagai akibat dari wahamnya seperti:
  1. Hambatan dalam berinteraksi dengan keluarga
  2. Hambatan berinteraksi dengan orang lain
  3. Hambatan dalam melakukan aktivitas sehari-hari
  4. Perubahan dalam prestasi kerja
5.2  Ajak klien melihat bahwa waham tersebut adalah masalah yang membutuhkan bantuan dari orang lain
5.3  Diskusikan dengan klien orang atau tempat ia minta bantuan apabila wahamnya timbul
Konsekuensi waham merupakan akibat negatif adanya waham
6.      Klien dapat melakukan teknik distraksi sebagai cara menghentikan pikiran yang terpusat pada wahamnya
6.      Setelah ....x pertemuan klien dapat melakuakan aktivitas yang konstruktif sesuai dengan minatnya yang dapat mengalihkan fokus klien dari wahamnya.
6.1  Diskusikan hobi atau aktivitas yang disukainya
6.2  Anjurkan klien memilih dan mekukan aktivitas yang membutuhkan perhatian dan ketrampilan fisik
6.3  Ikutsertakan klien dalam aktivitas fisik yang membutuhkan perhatian sebagai pengisi waktu luang
Libatkan klien dalam TAK orientasi realita
6.4  Bicarakan dengan klien topik-topik yang nyata
6.5  Beri penghargaan bagi setiap upaya klien yang positif
Dengan distraksi, diharapkan waham berkurang

7.      Klien mendapat dukungan keluarga
7.1  Setelah ....x interaksi keluarga dapat menjelaskan tentang:
  1. pengertian waham
  2. tanda dan gejala waham
  3. penyebab dan akibat waham
  4. cara merawat klien waham
7.2  Setelah .... x interaksi keluarga dapat mempraktekan cara merawat klien waham
7.1  Diskusikan pentingnya peran serta keluarga sebagai pendukung untuk mengatasi waham
7.2  Diskusikan potensi keluarga untuk membantu klien mengatasi waham
7.3  Jelaskan pada keluarga tentang
  1. Pengertian waham
  2. Tanda dan gejala waham
  3. Penyebab dan akibat waham
  4. Cara merawat klien waham
7.4  Latih keluarga cara merawat waham
7.5   Tanyakan perasaan keluarga setelah mencoba cara yang dilatihkan
7.6  Beri pujian kepada keluarga atas keterlibatannya merawat klien di rumah sakit

Dikungan keluarga penting bagi kesembuhan klien
8.      Klien dapat menfaatkan obat dengan baik
8.1  Setelah .... x interaksi klien menyebutkan : manfaat minum obat, kerugian tidak minum obat, nama, warna, dosis , efek samping obat
8.2  Setelah  .... x interaksi klien mendemontrasikan penggunaan obat dengan benar
8.3  Setelah.... x interaksi klien menyebutkan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dokter
8.1  Diskusikan dengan klien tentang manfaat dan kerugian tidak minum obat, nama warna, dosis, cara, efek terapi dan efek samping pengguanaan obat
8.2  Pantau klien saat penggunaan obat, beri pujian jika klien menggunakan obat dengan benar
8.3  Diskusikan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dengan dokter dan anjurkan klien konsultasi kepada dokter/perawat jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan

Dengan obat yang teratur, akan mengurangi timbulnya waham
2.       
Resiko Perilaku Kekerasan
TUM: Klien dapat mengontrol perilaku kekerasan
TUK 1. Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan yang dilakukannya



TUK  2. Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan


















TUK 3. Klien dapat mengidentifikasi jenis perilaku kekerasan yang pernah dilakukannya












TUK 4. Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan









TUK 5. Klien dapat mengidentifikasi cara konstruktif dalam mengungkapkan kemarahan





















TUK 6. Klien dapat mendemonstrasikan cara mengontrol perilaku kekerasan




















TUK 7. Klien mendapat dukungan keluarga untuk mengontrol perilaku kekerasan




















TUK 8 Pasien dapat menfaatkan obat dengan baik




1.      Setelah x interaksi Klien menceritakan penyebab perilaku kekerasan yang dilakukannya: Menceritakan penyebab perasaan jengkel/kesal baik dari diri sendiri maupun lingkungannya

2.      Setelah x interaksi Klien menceritakan keadaan yang dialami saat terjadi perilaku kekerasan.
  1. Fisik : mata merah, tangan mengepal, ekspresi tegang, dan lain-lain.
  2. Emosional : perasaan marah, jengkel, bicara kasar.
c.       Sosial : bermusuhan









3.      Setelah     x interaksi Klien menjelaskan:
a.       Jenis-jenis ekspresi kemarahan yang selama ini telah dilakukannya
b.      Perasaannya saat melakukan kekerasan
c.       Efektivitas cara yang dipakai dalam menyelesaikan masalah






4. Setelah 3x interaksi Klien menjelaskan akibat tindak kekerasan yang dilakukannya
a.       Diri sendiri : luka, dijauhi teman, dll
b.      Orang lain/keluarga : luka, tersinggung, ketakutan, dll
c.       Lingkungan : barang atau benda rusak dll

Setelah x interaksi Klien  dapat menjelaskan cara-cara sehat mengungkapkan marah
























6. Setelah 3x interaksi Klien memperagakan cara mengontrol perilaku kekerasan:
  1. Fisik: tarik nafas dalam, memukul bantal/kasur
  2. Verbal: mengungkapkan perasaan kesal/jengkel pada orang lain tanpa menyakiti
  3. Spiritual: zikir/doa, meditasi  sesuai agamanya








7. Setelah 2x interaksi Keluarga dapat:
a.       Menjelaskan cara merawat klien dengan  perilaku kekerasan
b.      Mengungkapkan rasa puas dalam merawat klien
















8.1  Setelah      x interaksi pasien menyebutkan : manfaat minum obat, kerugian tidak minum obat, nama, warna, dosis , efek samping obat
8.2  Setelah              x interaksi pasien mendemontrasikan penggunaan obat dengan benar
8.3  Setelah      x interaksi pasien menyebutkan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dokter


1.   Bantu klien mengungkapkan perasaan marahnya:
a.       Motivasi klien untuk menceritakan penyebab rasa kesal atau jengkelnya
b.      Dengarkan tanpa menyela atau memberi penilaian setiap ungkapan perasaan klien

2.      Bantu klien mengungkapkan tanda-tanda perilaku kekerasan yang dialaminya:
  1. Motivasi klien menceritakan kondisi fisik saat perilaku kekerasan terjadi
  2. Motivasi klien menceritakan kondisi emosinya saat terjadi perilaku kekerasan
  3. Motivasi klien menceritakan kondisi psikologis saat terjadi perilaku kekerasan
  4. Motivasi klien menceritakan kondisi hubungan dengan orang lain saat terjadi perilaku kekerasan

3. Diskusikan dengan klien perilaku kekerasan yang dilakukannya selama ini:
  1. Motivasi klien menceritakan jenis-jenis tindak kekerasan yang selama ini permah dilakukannya.
  2. Motivasi klien menceritakan perasaan klien setelah tindak kekerasan tersebut terjadi
  3. Diskusikan apakah dengan tindak kekerasan yang dilakukannya masalah yang dialami teratasi.

4. Diskusikan dengan klien akibat negatif (kerugian) cara yang dilakukan pada:
  1. Diri sendiri
  2. Orang lain/keluarga
  3. Lingkungan








5. Diskusikan dengan klien:
  1. Apakah klien mau mempraktekkan cara mengontrol marah yang telah diajarkan
  2. Jelaskan berbagai alternatif pilihan untuk mengungkapkan marah selain perilaku kekerasan yang diketahui klien.
  3. Ingatkan cara-cara sehat untuk mengungkapkan marah:
1)      Cara fisik: nafas dalam, pukul bantal atau kasur, olah raga.
2)      Verbal: mengungkapkan bahwa dirinya sedang kesal kepada orang lain.
3)      Sosial: latihan asertif dengan orang lain.
4)      Spiritual: sembahyang/doa, zikir, meditasi, dsb sesuai keyakinan agamanya masing-masing

6. 1. Diskusikan cara yang mungkin dipilih dan anjurkan klien memilih cara yang mungkin untuk mengungkapkan kemarahan.
6.2. Latih klien memperagakan cara yang dipilih:
  1. Peragakan cara melaksanakan cara yang dipilih.
  2. Jelaskan manfaat cara tersebut
  3. Anjurkan klien menirukan peragaan yang sudah dilakukan.
  4. Beri penguatan pada klien, perbaiki cara yang masih belum sempurna
a.                   Anjurkan klien menggunakan cara yang sudah dilatih saat marah/jengkel

7.1. Diskusikan pentingnya peran serta keluarga sebagai pendukung klien untuk mengatasi perilaku kekerasan.
7.2. Diskusikan potensi keluarga untuk membantu klien mengatasi perilaku kekerasan
7.3. Jelaskan pengertian, penyebab, akibat dan cara merawat klien perilaku kekerasan yang dapat dilaksanakan oleh keluarga.
7.4. Peragakan cara merawat klien (menangani PK )
7.5.Beri  kesempatan keluarga untuk memperagakan ulang
7.6. Beri pujian kepada keluarga setelah peragaan
7.7. Tanyakan perasaan keluarga setelah mencoba cara yang dilatihkan


8.1  Diskusikan dengan pasien tentang manfaat dan kerugian tidak minum obat, nama warna, dosis, cara, efek terapi dan efek samping pengguanaan obat
8.2  Pantau pasien saat penggunaan obat, beri pujian jika pasien menggunakan obat dengan benar
8.3  Diskusikan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dengan dokter dan anjurkan pasien konsultasi kepada dokter/perawat jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan
8.4  Pantau Ekstrapiramidal sindrom dalam penggunaan obat.

Dengan mengidentifikasi penyebab, klien dapat menghindari sehingga tidak terjadi PK





Dengan mengetahui tanda PK, klien akan mengantisipasi



















Dengan mengetahui jenis PK yang dilakukan, klien akan menghindarinya














Dengan mengetahui akibat, klien akan menghindari PK










Dengan cara konstruktif, marah akan terkontrol tanpa mengakibatkan dampak negatif
Dengan cara konstruktif, marah akan terkontrol tanpa mengakibatkan dampak negatif

















Dengan mendemonstrasikan akan menambah paham klien dan semakin biasa menerapkan


















Dukungan keluarga penting bagi kesembuhan klien















Dengan obat yang teratur, akan mengurangi timbulnya waham


3.
Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah
TUM : pasien mampu berinteraksi dengan lingkungan
TUK :
Pasien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat








TUK II:
1. Pasien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
2. Pasien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan
3. Pasien dapat menetapkan perencanaan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki

TUK III:
Pasien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya




1.      Setelah 3 x interaksi pasien :
  1. Mau menerima kehadiran perawat disampingnya
  2. Mengatakan mau menerima bantuan perawat
  3. Tidak menunjukkan tanda-tanda curiga
  4. Mengijinkan duduk di samping

2.      Setelah     x interaksi pasien :
1. dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki (aspek intelektual, aspek sosial budaya, aspek fisik dan aspek emosional)
2. dapat menyebutkan kemampuan yang dapat digunakan 
3.         dapat membuat rencana kegiatan harian 



3.      Setelah      x interaksi
Pasien melakukan kegiatan sesuai kemampuan dan dalam kondisi sakit





1.      Bina hubungan saling percaya dengan pasien :
  1. Beri salam
  2. Perkenalkan diri, tanyakan nama serta nama penggilan yang disukai.
  3. Jelaskan tujuan interaksi
  4. Yakinkan pasien dalam keadaan aman dan perawat siap menolong dan mendampinginya


2.      Lakukan kegiatan pada pasien :
  1. Identifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki pasien
  2. Bantu pasien menilai kemampuan pasien yang masih dapat digunakan
  3. Bantu pasien memilih kegiatan yang akan dilatih sesuai kemampuan pasien.
  4. Latih pasien sesuai kemampuan yang dipilih.
  5. Berikan pujian yang wajar terhadap jeberhasilan pasien.

3.      Lakukan kegiatan pada pasien :
  1. Evaluasi jadwal kegiatan harian pasien
  2. Latih kemampuan kedua..
  3. Anjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.
  4. Berikan pujian yang wajar terhadap jeberhasilan pasien.




Hubungan saling percaya dasar hubungan terapetik










Aspek posistif meningkatkan kepercayaan diri yang dimiliki orleh pasien













Evaluasi memberikan gambaran perkembangan program terapi

4.
Defisit perawatan diri
TUM: pasien dapat mandiri dalam perawatan diri






1.      Dalam     kali interaksi, pasien menunjukkan tanda-tanda percaya kepada perawat, dengan kriteria:
  1. Wajah cerah
  2. Tersenyum
  3. Mau berkenalan
  4. Ada kontak mata
  5. Menerima kehadiran perawat
  6. Bersedia menceritakan perasaannya





1.      Bina hubungan saling percaya:
  1. Berikan salam setiap berinteraksi.
  2. Perkenalkan nama, nama panggilan perawat dan tujuan perawat berkenalan.
  3. Tanyakan nama dan panggilan kesukaan pasien.
  4. Tunjukan sikap jujur dan menepati janji setiap kali berinteraksi.
  5. Tanyakan perasaan dan masalah yang dihadapi pasien.
  6. Buat kontrak interaksi yang jelas.
  7. Dengarkan ungkapan perasaan pasien dengan empati.

TUK:
1.      Pasien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat
2.      Kebutuhan dasar pasien terpenuhi
Selama dirawat, kebutuhan dasar pasien terpenuhi, dengan kriteria badan pasien bersih dan tidak bau
2.      Penuhi kebutuhan dasar pasien:
a.       Motivasi pasien mandi, sikat gigi dan keramas setiap hari
b.      Motivasi pasien untuk berhias setiap hari

3.      Pasien dapat mengenal tentang pentingnya perawatan diri
Dalam     kali interaksi, pasien dapat menyebutkan
  1. Manfaat menjaga perawatan diri
  2. Tanda-tanda bersih dan rapi
  3. Gangguan yang dialami jika tidak melakukan perawatan diri
3.      Diskusikan dengan pasien:
  1. Menfaat menjaga perawatan diri untuk keadaan fisik, mental dan sosial
  2. Tanda perawatan diri yang baik
  3. Penyakit yang dapat dialami jika tidak menjaga kebersihan diri

4.      Pasien dapat mengetahui cara- cara perawatan diri
1. Dalam    kali interaksi, pasien menyebutkan frekuensi menjaga perawatan diri: frekuensi mandi, gosok gigi, keramas, ganti pakaian, berhias, gunting kuku.
2. Dalam      kali interaksi pasien menjelaskan cara perawatan diri: mandi, berpakaian, gosok gigi, keramas, berhias, gunting kuku.
1. Diskusikan frekuensi menjaga perawatan diri selama ini: mandi, gosok gigi, keramas, ganti pakaian, berhias, gunting kuku.
2. Diskusikan cara perawatan diri yang baik dan benar: mandi, gosok gigi, keramas, ganti pakaian, berhias, gunting kuku.
3. Berikan pujian untuk setiap respon pasien yang positif

5.      Pasien dapat melaksanakan perawatan diri secara mandiri
Dalam     kali inetraksi pasien melaksanakan praktek perawatan diri secara mandiri:
  1. Mandi 2x sehari
  2. Gosok gigi setelah makan
  3. Keramas 2x seminggu
  4. Ganti pakaian 1x sehari
  5. Berhias sehabis mandi
  6. Gunting kuku setelah mulai panjang
  1. Pantau pasien dalam melaksanakan perawatan diri: mandi, gosok gigi, keramas, ganti pakaian, berhias, gunting kuku.
  2. Beri pujian saat pasien melaksanakan perawatan diri secara mandiri

6.      Keluarga memahami masalah yang dialami pasien
Dalam      kali interaksi keluarga dapat menjelaskan masalah yang dialami pasien:
  1. Penegrtian, gejala, jenis defisit perawatan diri beserta proses terjadinya
  2. Penyebab pasien defisit perawatan diri
  3. Masalah dalam merawat pasien
5.      Diskusikan dengan keluarga:
  1. Penegrtian, gejala, jenis defisit perawatan diri beserta proses terjadinya
  1. Penyebab pasien defisit perawatan diri
  2. Masalah yang dialami keluarga dalam merawat pasien

7.      Pasien medapatkan dukungan keluarga untuk meningkatkan perawatan diri
  1. Dalam      kali interaksi keluarga menjelaasakan cara-cara membantu pasien dalam memenuhi kebutuhan perawatan dirinya
  2. Dalam     kali interaksi keluarga menyiapkan sarana perawatan diri pasien: sabun mandi, pasta gigi, sikat gigi, shampoo, handuk, pakaian bersih, sandal, dan alat berhias
  3. Keluarga mempraktekkan perawatan diri pada pasien
Diskusikan dengan keluarga:
  1. Peneybab pasien tidak melakukan perawatan diri
  2. Tindakan yang telah dilakukan pasien salama di rumah sakit dalam menjaga peraawatan diri dan kemajuan yang telah dialami pasien
  3. Dukungan yang bisa diberikan oleh keluarga untuk meningkatkan kemampuan pasien dalam perawatan diri
  4. Sarana yang diperlukan pasien dalam perawatan diri
  5. Anjurkan kepada keluarga untuk menyiapkan sarana tersebut
  6. Anjurkan keluarga untuk mempraktekkan perawatan diri
  7. Ingatkan pasien waktu mandi, gosok gigi, keramas, ganti pakaian, berhias, gunting kuku, makan, toiletting
  8. Bantu pasien apabila kesulitan








                                        
                                        


DAFTAR PUSTAKA

Aziz R, dkk. 2003. Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa. Semarang: RSJD Dr. Amino Gondoutomo.
Keliat Budi A. 1999. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Edisi 1. Jakarta: EGC.
Tim Direktorat Keswa. 2000. Standart Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa. Edisi 1. Bandung: RSJP.
Townsend M.C. 1998. Diagnosa Keperawatan Pada Keperawatan Psikiatri; pedoman untuk pembuatan rencana keperawatan. Jakarta: EGC
…………..Pelatihan Asuhan Keperawatan Pada Klien Gangguan Jiwa. Semarang. 20 – 22 Novembr 2004. unpublished

Tidak ada komentar:

Posting Komentar